Kamis, 23 Februari 2023

Koneksi Antar Materi Modul 2.1

 PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI


Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid. 

Melakukan pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

  1. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
  2. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
  3. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang proses belajar mereka.
  4. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas, namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
  5. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
Kesimpulan pembelajaran berdiferensiasi adalah ragam pembelajaran yang di rancangn untuk mengakomodir pemenuhan kebutuhan belajar murid dengan memperhatikan kesiapan belajar , minat profil belajar murid. Ada 3 strategi diferensiasi, antara laian:

1. Diferensiasi konten , terkait dengan materi ajar yang di sampaikan kepada murid, media konkret, dan abstrak, memastikan murid dapat mengakses materi sesuai gaya belajarnya.

2. Diferensiasi proses, terkait dengan pemahaman murid memaknai materi yang dipelajari, dengan cara: kegiatan berjenjang memvariasikan lama waktu, mengembangkan kegiatan bervariasi menggunakan pengelompokan yang fleksibel.

3. Diferensiasi produk , terkait dengan tagihan pembelajaran atau hasil karya pekerjaan murid, atau sesuatu yang ada wujudnya . Seperti: tulisan/ karangan/ foto/ vidio dll.

Langkah-langkah penerapan pembelajaran berdiferensiasi:

1. Menetukan tujuan pembelajaran

2. Melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid

3. Menetukan strategi yang akan dilakukan dan alat penilaian ( menggunakan diagram equalizer)

4. Menentukan kegiatan pembelajaran : berupa konten , proses, dan produk.

.5. Melakukan refleksi ( meningkatkan hal yang menjadi kekurangan dan mempertahankan hal yang menjadi kelebihan , adanya faktor pendukung dan penghambat.

Perlunya penerapan pembelajaranberdiferensiasi yaitu:

1. Kemampuan siswa berbeda dan beragam dalam hal minat, kesiapan, serta profil belajar siswa.

2. Agar pembelajaran berjalan dengan baik dan siswa menemukan kebahagiaan.

Berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan belajar siswa , guru dapat mengetahui dan memahami gaya belajar siswa ( auditori, visual, dan kinestetik). Solusinya guru dapat menggunakan berbagai media pembelajaran untuk mengakomodir semua kebutuhan belajar murid.

Seperti yang telah saya pelajari di modul sebelumnya, Ki Hajar Dewantara telah menyampaikan bahwa maksud dari pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai  manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sebagai pendidik, kita tentu menyadari bahwa setiap anak adalah unik dan memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan bahagia.

Kaitan antar materi Modul 1 dengan modul 2.1 yaitu: Modul 1 menjelaskan tentan filosofi Ki Hajar Dewantara, nilai peran dan guru penggerak, visi murid merdeka belajar ( BAGJA) , serta penerapan budaya positif di sekolah, Hal ini berkaitan erat dengan modul 2.1 yang menjelaskan tentang penerapan pembelajaran berdiferensiasi , sehingga kebutuhan murid yang beragam dapat terpenuhi dengan baik dan tercapainya pembelajar sejati, dengan profil pelajar pancasila dan terwujudnya cita-cita merdeka belajar.

Sabtu, 18 Februari 2023

Refleksi Mingguan Modul 2.1

 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Jurnal Refleksi mingguan kali ini saya akan menulis tentang memenuhi kebuthan murid melalui pembelajaran berdiferensiasi. Pada awal modul 2 ini seperti biasa saya mengisi pre test, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan daring berupa membaca pengetahuan awal yaitu mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Demonstrasi Kontekstual, dan kegiatan lainnya melakukan Eklaborasi Pemahaman, Koneksi antar materi, dan membuat aksi nyata.

Modul 2.1 saya awali dengan mengerjakan soal pre test sebanyak 30 soal pilihan ganda yang memuat materi-mayteri yang akan dipelajari di modul 2. Sedangkan kegiatan Mulai dari Diri saya diajak untuk berefleksi bagaimana pengelolaan kelas yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan belajar murid yang berbeda-beda, selain itu saya diajak meceritakan kembali pengalaman tentang bagaimana tindakan guru di yang pernah mengajar saya.

Kegiatan selanjutnya yaitu elaborasi konsep, pada kegiatan elaborasi ini dibagi atas 2 yaitu belajar mandiri dan Forum Diskusi yang dibagi lagi menjadi dua sesi. Belajar mandiri, saya diharapkan dapat memahami konsep pembelajaran berdiferensiasi dari berbagai kasus yang dilanjutkan pada forum diskusi, forum diskusi sesi 1 difasilitasi oleh fasilitator kami berdisuksi berbagai kasus pembelajaran berdiferensiasi yang dilajutkan pada forum diskusi sesi 2, kami menganisis setiap kasus dan mempresntasikan hasil anislis setiap kasus sambil memberikan komentar dan pertanyaan terkait kasus-kasus pembelajaran berdiferensiasi. diakhir diskusi kami diberikan penjelasan tentang pembelajaran berdiferensiasi sebagai bentuk penguatan dan pencerahan kepada kami. 


Senin, 13 Februari 2023

AKSI NYATA BUDAYA POSITIF


Makna Kata Disiplin

Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahw

“dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka. 
(Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka,  Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470).

        Pelaksanaan Diseminasi Budaya Posistif di lingungan Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato terlaksana dengan baik yang diikuti oleh guru-guru dan kepala sekolah dari tiga sekolah yaitu SDN 02 Buntulia, SDN 06 Buntulia, dan SDN 09 Buntulia yang bertempat di SDN 06 Butulia pada hari kamis tanggal 19 Januari 2023.
        Pada awal perencanaan pelaksanaan diseminasi hanya akan dilaksanakan pada sekolah Calon Guru Penggerak yaitu di SDN 09 Buntulia, namun besarnya antusias dari beberapa sekolah yang ingin bergabung untuk belajar, maka terlaksana pada tiga gabungan sekolah. Antusias yang tinggi dari guru-guru di kecamatan Buntulia menggambarkan secara langsung bahwa penerapan Budaya Positif mulai terbentuk secara perlahan.
        Penyampaian Diseminasi Penerapan Budaya Positif di lingkungan kecamatan Buntulia mencakup materi-materi Prinsip Dasar Disiplin Positif, Nilai-nilai Kebajikan, Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Keyakinan Kelas, Kebutuhan Dasar Manusia, 5 Posisi Kontrol, dan segitiga Restitusi. Materi disampaikan dengan metode ceramah, games, dan simulasi langsung. Melalui berbagai metode penyampaian materi guru-guru sangat antusias mengikuti, terakhir untuk mengkonfirmasi pengetahuan guru tentang budaya postif, saya sebagai pelaksana diseminasi melakukan tes dalam bentuk Quizizz yang menambah semangat pada akhir kegiatan.
        Saya sebagai pelaksana diseminasi mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Pengawas, Kepala-kepala Sekolah, dan seluruh guru di Kecamatan Buntulia yang mendukung penuh kegiatan Diseminasi Budaya Positif.
        

Koneksi Antar Materi Modul 2.1

  PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi...