Salah satu tugas Calon Guru Penggerak adalah menuliskan refleksi dari setiap modul yang telah dipelajari, kali ini saya akan menuliskan Refleksi modul 1.2 yaitu Nilai dan Peran Guru Penggerak.
Berikut merupakan nilai guru penggerak yaitu, Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, dan Berpihak pada murid.
Berikut juga peran dari guru penggerak yaitu, Menjadi Pemimpin Pembelajaran, Menjadi Coach bagi guru lain, Mendorong Kolaborasi, Mewujudkan Kepemimpinan Murid, Menggerakkan Komunitas Praktisi.
Pada modul ini juga kami dimintakan untuk konektivitas antara modul 1.1 Filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara dengan modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak, berikut video konektivitas antar materi
Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009), “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”
Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.
Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat). Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Pendidikan menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir). Kekuatan diri (kodrat) yang dimiliki, menuntun murid menjadi cakap mengatur hidupnya dengan tanpa terperintah oleh orang lain.
Dasar Dasar Pendidikan yang Menuntun
KHD menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.
Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.
Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Anak juga secara sadar memahami bahwa kemerdekaan dirinya juga mempengaruhi kemerdekaan anak lain. Oleh sebab itu, tuntutan seorang guru mampu mengelola dirinya untuk hidup bersama dengan orang lain (menjadi manusia dan anggota masyarakat)
KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, “waspadalah, carilah barang-barang yang bermanfaat untuk kita, yang dapat menambah kekayaan kita dalam hal kultur lahir atau batin. Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu”. KHD menggunakan ‘barang-barang’ sebagai simbol dari tersedianya hal-hal yang dapat kita tiru, namun selalu menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.
Kekuatan sosio-kultural menjadi proses ‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar. Pendidikan bertujuan untuk menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki laku-nya untnuk menjadi manusia seutuhnya. Jadi anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa.
Kodrat Alam dan Kodrat Zaman
KHD menjelaskan bahwa dasar Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”
KHD mengelaborasi Pendidikan terkait kodrat alam dan kodrat zaman sebagai berikut
“Dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman. Sementara itu, segala bentuk, isi dan wirama (yakni cara mewujudkannya) hidup dan penghidupannya seperti demikian, hendaknya selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas-asas hidup kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan” (Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21)
KHD hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Bila melihat dari kodrat zaman, pendidikan saat ini menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad ke-21 sedangkan dalam memaknai kodrat alam maka konteks lokal sosial budaya murid di Indonesia Barat tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan murid di Indonesia Tengah atau Indonesia Timur.
Mengenai Pendidikan dengan perspektif global, KHD mengingatkan bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal sosial budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh KHD adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks sosial budaya yang ada di Indonesia. Kekuatan sosial budaya Indonesia yang beragam dapat menjadi kekuatan kodrat alam dan zaman dalam mendidik (menuntun kekuatan kodrat anak).
KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri. Artinya, cara belajar dan interaksi murid Abad ke-21, tentu sangat berbeda dengan para murid di pertengahan dan akhir abad ke-20. Kodrat alam Indonesia dengan memiliki 2 musim (musim hujan dan musim kemarau) serta bentangan alam mulai dari pesisir pantai hingga pegunungan memiliki keberagaman dalam memaknai dan menghayati hidup. Demikian pula dengan zaman yang terus berkembang dinamis mempengaruhi cara pendidik menuntun para murid.
Budi Pekerti
Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor).
Lebih lanjut KHD menjelaskan, keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat bersemainya pendidikan yang sempurna bagi anak untuk melatih kecerdasan budi-pekerti (pembentukan watak individual). Keluarga juga merupakan dsebuah ekosistem kecil untuk mempersiapkan hidup anak dalam bermasyarakat dibanding dengan institusi pendidikan lainnya.
Alam keluarga menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan teladan, tuntunan, pengajaran dari orang tua. Keluarga juga dapat menjadi tempat untuk berinteraksi
sosial antara kakak dan adik sehingga kemandirian dapat tercipta karena anak-anak saling belajar antara satu dengan yang lain dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, peran orang tua sebagai guru, penuntun, dan pemberi teladan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan karakter baik anak.
Budi Pekerti merupakan keselarasan (keseimbangan) hidup antara cipta, rasa, karsa dan karya. Keselarasan hidup anak dilatih melalui pemahaman kesadaran diri yang baik tentang kekuatan dirinya kemudian dilatih mengelola diri agar mampu memiliki kesadaran sosial bahwa ia tidak hidup sendiri dalam relasi sosialnya sehingga ketika membuat sebuah keputusan yang bertanggungjawab dalam kemerdekaan dirinya dan kemerdekaan orang lain. Budi Pekerti melatih anak untuk memiliki kesadaran diri yang utuh untuk menjadi dirinya (kemerdekaan diri) dan kemerdekaan orang lain.
Pertanyaan-pertanyaan refleksi pemikiran Ki Hajar Dewantara
Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Anda mempelajari modul 1.1?
ternyata Sebelum mempelajari modul 1.1 pada program guru penggerak ini, begitu banyak kekeliruan yang saya lakukan selama melaksanakan proses pembelajaran, diantaranya pembelajaran belum berfokus 100 % pada anak didik, saya juga sering mengejar ketertinggalan materi hanya untuk menyesuaikan dengan program semester yang telah saya susun sebelumnya, dan keberhasilan diukur pada ketercapaian KKM, sehingga kadang membuat saya jengkel jika banyak siswa yang tidak memenuhi KKM yang telah ditetapkan. saya juga sering menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang baik menurut saya, tanpa memperhatikan kebutuhan siswa atau pembelajaran seperti apa yang mereka inginkan. saya juga sering memberikan hukuman kepada siswa saat mereka tidak mengerjakan tugas-tugas yang saya berikan, buntut dari kekesalan karena tidak tercapainya KKM, lagi-lagi KKM menjadi prioritas utama saya, sehingga rasa ikhlas dalam mengajar saya hilang.
Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?
saya harus bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah yang telah merancang program guru penggerak ini, karena melalui pendidikan guru penggerak ini pola pikir saya tentang pembelajaran yang memerdekakan siswa terbuka, saya bisa memahami makna dari pemikiran-pemikiran ki hajar dewantara, saya sadar bahwa setiap siswa memiliki potensi mereka masing-masing, dan merekalah penerus pembangunan dimasa yang akan datang.
Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?
Identifikasi karakteristik anak
Melaksanakan pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik
Apa peristiwa positif dan negatif yang saya tuliskan di sana?
peristiwa positif : saya mewakili sekolah dalam lomba mata pelajaran saat saya masih duduk di kelas 4
peristiwa negatif : saya pernah mendapat nilai nol pada mata pelajaran matematika saat kelas 1 SMA
Selain saya, siapa lagi yang terlibat di dalam masing-masing peristiwa tersebut?
peristiwa positif : saya ingatnya bersaing dengan kakak kelas 5 untuk mewakili sekolah, dan ada juga kakak kelas yang mewakili lomba mata pelajaran IPA
peristiwa negatif : ada beberapa teman (pian, zaldi)
Dampak emosi apa saja yang saya rasakan hingga sekarang? (silakan gunakan roda emosi Plutchik di Gambar 2 untuk mengidentifikasi persisnya perasaan Bapak/Ibu di masa itu)
peristiwa positif : saya merasa bangga dan senang bisa mengalahkan kakak kelas untuk mewakili sekolah pada lomba mata pelajaran matematika
peristiwa negatif : saya kecewa, sedih karena saya tidak lebih baik ketika saya masih SD dan SMP
Mengapa momen yang terjadi di masa sekolah masih dapat saya rasakan dan masih dapat memengaruhi diri saya di masa sekarang?
berkat peristiwa di sekolah, adanya bimbingan dari guru saya bisa menjadi seperti saat ini
Pelajaran hidup apa yang saya peroleh dari kegiatan trapesium usia dan roda emosi, terkait peran saya sebagai guru terhadap peserta didik saya?
saya merasa sedang melihat diri saya yang dulu sedang belajar, saya harus bisa menyiapkan anak didik saya sebagai manusia yang merdeka dalam belajar agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat.
Bagaimana saya menuliskan nilai-nilai yang saya yakini sebagai seorang Guru, dalam 1 atau 2 kalimat menggunakan kata-kata: "guru", "murid", "belajar", "makna", "peran"?
Guru mempunyai peran penting, guru sebagai penuntun, Guru sebagai panutan terhadap murid di sekolah dalam melaksanakan pembelajaran yang bermakna.
Tugas 2. Nilai dan peran guru penggerak menurut saya
Apa nilai-nilai dalam diri saya yang membantu saya menggerakkan murid, rekan guru, dan komunitas sekolah saya?
saya selalu mencari tahu hal baru dalam proses pembelajaran untuk saya terapkan di kelas, sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang menarik bagi peserta didik saya
Apa peran yang selama ini saya mainkan dalam menggerakkan murid, rekan guru, dan komunitas sekolah saya?
saya sebagai guru yang menjadi motivator, sahabat, orang tua bagi peserta didik saya, dan saya menjadi rekan kerja yang ingin selalu berbagi dan berkolaborasi bersama guru dan komunitas saya untuk mendapatkan hal baru dan bermanfaat bagi saya serta rekan guru dan komunitas.
Salah
satu cara untuk mengasah dan memperkuat semua pengetahuan yang kita ketahui
yaitu dengan cara berbagi. Berbagi pengetahuan tidak akan merugikan kita, malah
sebaliknya apa yang kita ketahui dan kita bagikan kepada orang lain akan
menguntungkan kita, kita dapat merefresh kembali dan mengupdate apa yang telah
kita ketahui.
Hari
Jum’at tanggal 16 Oktober 2020 Sahabat Rumah Belajar berbagi cara memanfaatkan
fitur-fitur portal rumah belajar pada guru-guru yang berada di SDN 06 Paguat.
Sekolah yang beralamat di Jalan Pelabuhan Desa Bumbulan Kecamatan Paguat ini
memiliki moto SDN 06 Paguat Bangkit. Melalui kepala sekolah Ibu Siti Romlah
S.Pd.SD., pada sambutannya menyampaikan ingin sekali memajukan sekolah
diberbagai bidang yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru dan siswa.
Kepala Sekolah berharap dengan hadirnya Sahabat Rumah Belajar dapat memberikan tambahan
pengetahuan kepada seluruh staf dewan guru, termasuk di dalamnya beliau sebagai
kepala sekolah.
Suasana
penyampaian materi berjalan begitu manarik dan penuh semangat, banyak
pertanyaan yang muncul dari guru-guru, sehingga sering terjadi diskusi tanya jawab
antara SRB dan guru-guru. Tidak terbatas pada pemanfaatan fitur-fitur rumah
belajar. Bahkan ada beberapa guru yang tertarik ingin belajar membuat video
pembelajaran untuk mengisi konten-konten yang masih kurang pada fitur rumah
belajar.
Pada
akhir acara, kepala sekolah dengan penuh harap dapat mengundang kembali Sahabat
Rumah Belajar untuk berbagi pengetahuan berbasis teknologi lainnya yang berkaitan
dengan pembelajaran. Hal ini diutarakan dengan kalimat ”bolehkan kami mengundang
sahabat rumah belajar lagi dilain waktu”?, tentunya kami Sahbat Rumah Belajar menjawab,
dengan senang hati kami akan datang jika diundang lagi. Harapan kami sebagai
Sahabat Rumah Belajar, SDN 06 Paguat dapat bangkit menjadi sekolah yang
berprestasi.
Coaching Rumah Belajar untuk peserta
PembaTIK Level 4 yang berlangsung selama 3 hari sejak tanggal 12-14 Oktober
2020 telah selesai. Coaching dipandu langsung
oleh tutor dari Pusdatin Kemendikbud Bapak Andy Sulistyono, Bapak Donie
Margavinto, Ibu Nur Cahya Mega Pertiwi, serta Duta Rumah Belajar (DRB) dari Gorontalo,
Bapak Mamat Liputo DRB 2017 dan Bapak Ridwan Djabar DRB 2018, serta Ibu Feby Octaviani
Tanipu DRB 2019.
Selama
mengikuti Coaching, saya banyak mendapatkan ilmu-ilmu baru dari hasil paparan
dan sharing dengan teman-teman sesama
SRB maupun dengan para tutor. Saran dan
masukan dari tutor merupakan motivasi tersendiri bagi saya. Sebagai peserta yang
tampil perdana untuk memaparkan program kerja, masih banyak kekurangan dalam
pemaparan yang saya sampaikan baik dari tampilan bahan paparan maupun program
kerja yang belum berjalan, namun hal itu tidak membuat saya berhenti atau patah semangat. Terpilih menjadi peserta PembaTIK
level 4 membuat saya sangat bersyukur tetapi juga menyadarkan saya bahwa masih
banyak yang harus dipelajari untuk meningkatkan kompetensi saya sebagai seorang
guru.
Terima
kasih Pusdatin Kemendikbud telah mengadakan program PembaTIK sebagai seleksi
calon Duta Rumah Belajar. Berkat program ini saya bisa mengenal rekan-rekan guru hebat yang
memiliki ilmu dan pengalaman yang luar biasa serta saling memberi motivasi. Setelah
Coaching ini saya akan berusaha melanjutkan kegiatan berbagi dan membumikan
Rumah Belajar dengan strategi-strategi yang lebih baik lagi.
Mari
belajar asyik dengan Rumah Belajar
Dengan
Rumah Belajar, belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja
Merdeka
Belajarnya, Rumah Belajar Portalnya, Maju Indonesia
Sosialisasi
Rumah Belajar yang dilaksanakan oleh Sahabat Rumah Belajar berlanjut ke kecamatan
Patilanggio. Kepala Sekolah SDN 05 Patilanggio Ibu Rety Yusuf, M.Pd., meminta Sahabat Rumah Belajar untuk melaksanakan
sosialisasi di sekolah tempat beliau bertugas. Pada hari Rabu, 7 Oktober 2020
, kami sebagai Sahabat Rumah Belajar (SRB) mengunjungi SDN 05 Patilanggio.
Kepala
Sekolah yang terkenal semangat dan energik ini dalam sambutannya menyampaikan
kepada guru-guru agar dapat mengikuti sosialisasi pemanfaatan Portal Rumah
Belajar dengan serius. Selain itu beliau menyampaikan bahwa kegiatan
sosialisasi ini sebagai bentuk tindakan cepat karena di daerah tersebut baru masuk
jaringan internet. Beliau berharap dengan masuknya jaringan internet di daerah
tersebut dapat mengefektifkan kegiatan belajar dari rumah.
Sahabat
Rumah Belajar mengenalkan semua fitur-fitur pada portal rumah belajar,
guru-guru terlihat bersemangat dalam mengikuti langkah-langkah dalam
memanfaatkan fitur-fitur rumah belajar, sampai pembuatan akun masing-masing
guru dan akun penyelenggara pada fitur kelas maya.
Supervisi mutu yang dilaksanakan oleh LPMP Gorontalo dan dijalankan oleh
pengawas pengawas di tiap kecamatan, termasuk kecamatan Buntulia Kabupaten Pohuwato yang dilaksanaan
sejak 22 s/d 30 September 2020 dibawah binaan Pengawas Buntulia Bapak Subandri
Dulupi, S.Pd.
Pada instrumen yang menjadi acuan supervise mutu, ada beberapa pertanyaan
terkait dengan pemanfaatan teknologi pembelajaran daring. Pengawas Buntulia
yang dikenal aktif dan mampu memanfaatkan teknologi ini menghimbau kepada semua
guru-guru yang berada dibawah binaannya agar dapat memanfatkan media-media
pembelajaran bebasis teknologi informasi, salah satunya adalah pemanfaatan
Rumah Belajar. Beliau juga berpesan, bahwa pada masa pandemi ini, kita sebagai
tenaga pendidik harus dapat bersiap dan meningkatkan kompetensi, agar kelak
kita tidak tertinggal dengan perkembangan teknologi terutama teknologi pembelajaran
yang semakin berkembang. Karena kita tidak pernah tau sampai kapan pandemi ini
akan berkahir dan belajar tatap muka akan normal kembali, maka dari itu
kegiatan belajar dari rumah harus dikelola dengan baik sehingga menjadi lebih
menarik dan bermakna.